PROPOSAL
GERAKAN SOSIAL
“PERGERAKAN KEAGAMAAN MAHASISWA DI KOTA SURABAYA”
GERAKAN SOSIAL
“PERGERAKAN KEAGAMAAN MAHASISWA DI KOTA SURABAYA”
Disusun oleh:
1.Agustina Lestyaningrum (064564008)
2.Arifiyanto (064564017)
3.Yunita Anggraeni (064564213)
1.Agustina Lestyaningrum (064564008)
2.Arifiyanto (064564017)
3.Yunita Anggraeni (064564213)
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2008
JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2008
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG.
Dalam sejarah perkembangan bangsa bangsa Indonesia mahasiswa merupakan sebuah kekuatan sekaligus pelopor utama dalam setiap perubahan. Sepanjang perjalanannya mahasiswa selalu menyuarakan perlawanan sebagai sikap lebih dominan. Dalam sejarahnya pada tahun 1998 telah mengambil peran yang signifikan yang mendorong mahasiswa peka terhadap permasalaham masyarakat menyebabkan mereka terdorong melakukan perubahan, mahasiswa merupakam kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak ke semua lapisan, mahasiswa paling lama memperoleh pendidikan , kesempatan sosialisasi politik yang terpajang diantara angkatan muda, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka, mahasiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier.
Ilmu pengetahuan yang diperoleh baik melalui akademis atau melalui kelompok-kelompok diskusi dan kajian, serta sikap idealisme yang lazim menjadi ciri khas mahasiswa merupakan potensi yang dimiliki generasi penerus pemerintahan, kemudian dikembangkan potensi mereka lewat organisasi-organisasi ekstra universitas yang banyak terdapat di hampir semua perguruan tinggi. Di Indonesia terdapat lima organisasi mahasiswa ekstra universitas atau sering dinamakan ormas mahasiswa, yang cukup menonjol, yaitu HMI Dipo (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), HMI MPO (Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi) dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia).
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Dipo HMI lahir ditengah-tengah suasana revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan, yaitu pada 5 Februari 1947 di kota Yogyakarta, Kemudian didirikanlah wadah perkumpulan mahasiswa Islam yang memiliki potensi besar bagi terbinanya insan akademik, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur. Sebagai ormas mahasiswa Islam yang independen dan bergerak dijalur intelektual, tidak jarang HMI melahirkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam kontemporer di Indonesia. Beberapa kader HMI bahkan sering melontarkan wacana pemikiran Islam yang mengundang kontroversi. Misalnya saja wacana sekulerisasi agama yang diungkapkan Nurcholish Madjid melalui slogannya yang terkenal “Islam Yes, Partai Islam No!.” 2.
Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) berdiri pada tanggal 15 maret 1986 di Jakarta, sebagai organisasi pecahan/faksi dari HMI yang disebutkan sebelumnya, terlahir akibat konflik berkepanjangan dalam menyikapi penerimaan asas tunggal tersebut
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya mendirikan sebuah organisasi sebagai wadah pergerakan angkatan mudanya dari kalangan mahasiswa yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pada tahun 1998 PMII bersama kaum muda NU lainnya telah bergabung dengan elemen gerakan mahasiswa untuk mendukung digelarnya people’s power dalam menumbangkan rezim Soeharto. Di jalur intelektual PMII banyak mengembangkan dan mengapresiasikan gagasan-gagasan baru, misalnya mengenai hak asasi manusia, gender, demokrasi dan lingkungan hidup.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ketika situasi nasional mengarah pada demokrasi terpimpin yang penuh gejolak politik di tahun 1960-an, dan perkembangan dunia kemahasiswaan yang terkotak-kotak dalam bingkai politik dengan meninggalkan arah pembinaan intelektual, beberapa tokoh angkatan muda Muhammadiyah seperti Muhammad Djaman Alkirdi, Rosyad Soleh, Amin Rais dan kawan-kawan memelopori berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 1964. Ide dasar gerakan IMM adalah; yakni membangun tradisi intelektual dan wacana pemikiran melalui intelectual enlightement (pencerahan intelektual) dan intelectual enrichment (pengkayaan intelektual).
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), KAMMI terbentuk dalam rangkaian acara FS LDK (Forum Sillaturahmi Lembaga Da’wah Kampus) Nasional X di Universitas Muhammadiyah Malang tanggal 25-29 Maret 1998. Alasan dibentuknya adalah sebagai ekspresi keprihatian mendalam dan tanggung jawab moral atas krisis dan penderitaan rakyat yang melanda Indonesia serta itikad baik untuk berperan aktif dalam proses perubahan serta membangun kekuatan yang dapat berfungsi sebagai peace power untuk melakukan tekanan moral kepada pemerintah.
Pemahaman terhadap teologi sebagai landasan filosofis berpengaruh pada tindakan politik sebagaimana pengetahuan, bahwa ada kaitan antara fikiran dan tindakan. Selanjutnya, ideologi yang dianut oleh gerakan mahasiswa Islam ini terungkap dan diwujudkan lebih jelas pada ekspresi politik.
Gerakan mahasiswa Islam sebagai realitas sosial merupakan replika atau miniatur dari kondisi masyarakat Indonesia pada umumnya. Polarisasi dan friksi yang terjadi pada ormas Islam ternyata memiliki akar kesejarahan yang cukup panjang. Sampai saat ini, tipologi Clifford Geertz tentang santri, priyayi dan abangan masih kental pada masyarakat sekarang.
Ideologi gerakan mahasiswa Islam pada dasarnya adalah Islam. Namun dalam perkembangan selanjutnya mengalami metamorfose seiring dengan perkembangan jaman. Dengan memahami ideologi meraka, kita dapat membaca atau menganalisa akan ke mana mereka selanjutnya.
B. RUMUSAN MASALAH.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah motivasi mahasiswa dalam mengikuti organisasi mahasiswa ekstra universitas atau sering dinamakan ormas mahasiswa, serta metode adaptif yang digunakan untuk tetap eksis dalam kegiatanya hingga sekarang.
C. TUJUAN PENELITIAN.
Tujuan penelitian untuk mengetahui keterlibatan mahasiswa dalam keikutsertaan iklim perubahan yang terjadi, memberikan gambaran bahwa gerakan mahasiswa merupakan kepentingan yang ikut mendukung maju dan berkembangnya bangsa.
D. MANFAAT PENELITIAN.
a. Teoritis.
-Untuk menambah wawasan keilmuan dalam peningkatan kadar intelektual.
b. Praktis.
- Untuk memperkaya kajian dalam dunia akademik tentang stratifikasi sosial dalam masyarakat.
BAB II
KAJIAN TEORI
KAJIAN TEORI
I.TEORI PERTUKARAN JARINGAN
Teori pertukaran jaringa mengombinasikan teori [ertukaran sosial dan analisis jaringan. Kombinasi itu diasumsikan menyempurnkan kelebihan kedua teori sambil memperbaiki kekurangannya. Di satu sisi, analisis jaringan mempunyai keunggulan mampu membangun representrasi yang komplek dari interaksi sosial mulai dari relasi sosial yang sedrhana dan dapat digambarkan, tetapi cook dan withmeyer (1992:123) mengatakan bahwa analisis ini mempunyai kekurangan tentang konsep relasi itu sendiri. Di lain pihak, teori pertukaran sosial mempunyai keunggulan karena memiliki model aktor tunggal yang membuat pilihan berdasarkan manfaat yang mungkin diraih, namun mempunyai kekurangan karena ia melihat struktur sosial terutama sebagai hasil dari pilihan individu ketimbang sebagai suatu determinan pilihan-pilihan tersebut.
Emerson (1972a, 1972b) mengawali riset tentang jaringan pertukaran sosial ketika dia menyimpulkan bahwa teori pertukaran sosial terbatas oleh fokusnya pada dua orang, atau relasi pertukaran diadik (dyadic). Dengan memperlakukan relasi-rrelasi itu sebagai relasi yang salin berkaitan (interconnected), Emerson kemudian melangkah maju untuk melihat pertukaran sosial sebagai sesuatu yang dilekatkan pada struktur jaringan yang lebih luas.
II INTERAKSIONISME SIMBOLIK
Interaksionisme Simbolik adalah kajian pada skala mikro, yakni pada proses-proses interaksi-diri yang berlangsung antara seorang individu dengan kesadaran subyektifnya sendiri. Karena itu, teori ini pada dasarnya adalah sebuah perspektif psikologi sosial. Sebagian besar analisisnya difokuskan pada individu (self atau diri), dan pada skala kecil hubungan interpersonal. Individu dilihat sebagai pembentuk aktif dari tindakan-tindakannya sendiri yang bisa melakukan interpretasi, evaluasi, pendefinisian, dan pemetaaan atas stimuli dan objek yang ada di depannya.
Konsep lain yang juga penting dalam interaksionisme simbolis adalah gagasan Mead tentang “I” sebagai subjek dan “Me” sebagai objek. Konsep seperti ini sulit dicari padanannya dalam bahasa Indonesia, karena kata “Aku” bisa sekaligus menjadi subjek atau objek. Bagi Mead “I” mencerminkan sosok individu yang melakukan tindakan secara bebas, spontan dan aktual sehingga “I” dianggap sebagai yang non-reflektif. Sementara “Me” bersifat reflektif, artinya apa yang telah dilakukan oleh “I” menjadi kajian refleksi bagi “Me”. “I” menjadi ingatan bagi “Me” dan ingatan tersebut sewaktu-waktu dinilai sendiri oleh “Me” dari kacamata orang lain. “I” dan “Me” (yang keduanya menyatu dalam setiap sosok individu) dengan demikian menjadi cerminan bagi “konsep-diri”.
Salah satu keberatan atas teori interaksionisme simbolik adalah justru penekanannya yang terlampau bersifat psikologis, sehingga sulit dipakai untuk menganalisa problem-problem sosiologis dalam skala besar. Menganalisa perubahan sosial, misalnya, tidak cukup hanya dengan melihat akibat dari atau dorongan-dorongan ke arah perubahan-perubahan tersebut pada level individual. Pada sisi lain, perspektif ini juga cenderung terjebak pada determinisme psikologis untuk menjelaskan realitas sosial.
III. TINDAKAN SOSIAL
Tindakan Sosial dibedakan menjadi 4 tipe tindakan ;
1. Tindakan Sosial Instrumental
Dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dan tujuan yang akan dicapai dengan didasari tujuan yang telah matang dipertimbangkan.
2. Tindakan Sosial Berorientasi Nilai
Dilakukan dengan memperhitungkan manfaat dan tujuan yang ingin dicapai tidak terlalu dipertimbangkan.
3. Tindakan Sosial Tradisional
Termasuk kebiasaan yang berlaku selama ini dalam masyarakat
4. Tindakan Afektif
Sebagian besar tindakan dikuasai oleh perasaan atau emosi tanpa perhitungan atau pertimbangan yang matang.
BAB III
METODE PENELITIAN
METODE PENELITIAN
A.Sifat Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan di Surabaya menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh dan utuh mengenai pergerakan mahasiswa dalam hal keagamaan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi yakni peneliti berusaha memahami makna (interpretative under standing) dari peristiwa atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat dan suatu hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Tujuan fenomenologi adalah untuk dapat menggambarkan perilaku-perilaku yang dilakukan masyarakat dalam kehidupannya.
1.Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan mengambil lokasi Surabaya yang merupakan daerah yang akan diteliti oleh peneliti dan akan dilaksanakan selama bulan Oktober sampai November. Alasan metodelogis pemilihan Surabaya karena Surabaya adalah kota metropolitan dan sesuai dengan judul yang diambil oleh peneliti. Juga penelitian dilakukan dengan wawancara melalui internet.
2.Subyek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah anggota pergerakan mahasiswa dalam hal keagamaan. Anggota mahasiswa keagamaan yang ada di Surabaya dimungkinka bisa memenuhi informasi mengenai penelitian kami.. Yang pada akhirnya diharapkan dapat memenuhi informasi menganai fenomena pergerakan keagamaan mahasiswa.
3.Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan dalam penelitian ini menggunakan data primer. Penggalian data primer menggunakan metode observasi dan teknik indepth intervier serta snowball sampling. Indepth interview digunakan untuk menggali data yang sedalam-dalamnya, hal ini bertujuan agar tujuan dari penelitian ini dapat tercapai. Data yang dikumpulakan berupa jawaban-jawaban, ucapan-ucapan, atau perilaku yang didasarkan dari hubungan empati, respon itu pun pengelompokan dari berbagai fenomena yang ditemukan di lapangan. Kemudian memahami artinya secara mendalam dan dicatat dalam field note (catatan lapangan). Snowball sampling digunakan dengan menggali data dari permukaan sampai data yang terdalam. Teknik ini menetapkan pihak pemerintah kota Surabaya sebagai Key Informan, karena dari pihak ini lah peneliti mendapatkan informasi-informasi.
4.Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses mengatur, mengorganisasikan, ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian data. Proses analisis data ini peneliti mengumpulkan data secara bertahap. Pertama, peneliti menelaah seluruh dari berbagai sumber dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, yaitu melalui pengamatan secara langsung terhadap fenomena yang terjadi serta respon dan perilaku masyarakat Surabaya. Kedua, setelah peneliti mengumpulkan data maka data tersebut akan di proses dan dianalisis menggunakan teori-teori yang telah dirumuskan oleh peneliti pada rinjauan teori, ketiga, peneliti akan menginterprestasikan data yang telah diolah dan diperoleh dilapangan dengan menggunakan metode triangulasi, metode ini dapat ditempuh dengan beberapa langkah yaitu,
(2)Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
(3)Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
(4)Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
(5)Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan mengengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan.
(6)Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar